Kompetisi Menulis Flash Fiction Lamin Pohon

Standard

KOMPETISI MENULIS FLASH FICTION LAMIN POHON

(LAMIN POHON FF)

Lamin Pohon bekerja sama dengan Nulis Buku Club Balikpapan mengadakan

Kompetisi Menulis Flash Fiction

Apa itu Flash Fiction?

Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek (cerpen). Panjang rata-rata flash fiction berkisar antara 250 sampai 1000 kata. Karakteristik utamanya adalah: penggunaan kata yang efektif, lebih fokus pada cerita daripada deskripsi karakter dan latar belakang yang spesifik. Flash fiction lebih mengutamakan kepiawaian mengolah kata seminim mungkin untuk menghasilkan efek cerita sedramatis mungkin.

Apa itu Lamin Pohon?

Lamin Pohon yang penyebutannya kemudian disingkat menjadi Lampoh adalah sebuah rumah dengan tema menyatu dengan alam. Di rumah inilah lalu dikembangkan tempat berkumpul yang asik, yaitu: waroeng spaghetti tuna, pojok lampion, dan ruang baca perpustakaan, yang merupakan tempat berkumpulnya banyak komunitas yang memiliki visi dan misi serupa. Beralamat di Jl. PU 3 No. 38 Komp. V&W Balikpapan, Lampoh merupakan sebuah sarana baru pelepas penat dengan konsep alamnya yang menenangkan pikiran.

Ketentuan Umum :

  1. Khusus untuk yang berdomisili di Balikpapan, pelajar dan umum. Panitia pembukaan Ruang Baca Perpustakaan Lamin Pohon tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi.
  2. Kegiatan Lamin Pohon FF ini adalah sebuah kompetisi yang diselenggarakan dalam rangka rangkaian acara pembukaan Ruang Baca Perpustakaan Lamin Pohon.
  3. Satu orang penulis hanya boleh mengirimkan satu hasil karya.
  4. Penulis menjamin karya yang diikutkan dalam kompetisi Lamin Pohon FF ini merupakan hasil karyanya yang orisinil, bukan saduran & bukan terjemahan dari hasil karya orang lain dan belum pernah dipublikasikan di media manapun.
  5. Penulis menjamin bahwa hasil karya yang diikutkan dalam kompetisi Lamin Pohon FF ini tidak mengandung unsur SARA, menyinggung agama atau golongan tertentu, serta tidak mengandung unsur pornografi.
  6. Pihak panitia tidak bertanggung jawab atas tuntutan hukum dari pihak lain atas hasil karya yang diikutkan dalam kompetisi Lamin Pohon FF ini.
  7. 20 karya terbaik akan dibukukan, dan dari 20 karya tersebut akan di pilih Juara 1, 2, dan 3.
  8. Royalti yang didapat dari penjualan buku akan disumbangkan ke Ruang Baca Perpustakaan Lamin Pohon untuk pengembangan kegiatan kepustakaan.
  9. Semua tulisan akan melalui proses seleksi oleh editor dan tim redaksional dari panitia. Hasil keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat.
  10. Pihak panitia berhak untuk mengeluarkan hasil karya anggota dari buku kumpulan flash fiction jika ternyata penulis melanggar ketentuan dan jika terjadi tuntutan hukum terhadap hasil karya.
  11. Penulis yang karyanya terpilih diharuskan membuat surat pernyataan bahwa karya yang dikirimkan orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media manapun.

 

Syarat dan Cara Mengirimkan Naskah:

  1. Bentuk tulisan adalah Flash Fiction.
  2. Tema bebas, namun harus bersetting Lamin Pohon.
  3. Ditulis sepanjang maksimal 2 (dua) halaman A4, dengan font Times New Roman 12, spasi 1,5. Margin yang digunakan adalah 2,5 cm atas, bawah, kiri dan kanan. Arsip naskah tulisan disimpan dalam bentuk Microsoft Word.
  4. Edit karyamu dengan baik, karena sebaiknya tidak ada revisi untuk karya yang sudah dikirimkan.
  5. Pastikan di akhir naskah tersebut sudah ada biodata penulis, berupa : nama, pekerjaan, tempat bekerja /sekolah, email, akun facebook atau twitter, serta nomor telpon yang dapat dihubungi. Jika tidak ada biodata seperti yang diminta, maka karya dianggap gugur.
  6. Naskah yang dikirim disimpan dalam format nama: judul – nama penulis, contoh: Kenangan Senja – Sitta Anggana atau Menatap Langit Hitam – Arianto Budi
  7. Kirimkan naskahmu ke email ini laminpohon.flashfic@gmail.com dengan subjek email : Lomba Menulis FF Lamin Pohon, dalam format .doc (MS Word).
  8. Waktu penyerahan naskah dimulai tanggal 1 Juni – 15 Juli 2012. Waktu tenggat akhir pengiriman tulisan tanggal 15 Juli 2012 pukul 23.59 Wita.
  9. Panitia berhak untuk tidak memasukkan tulisan yang dianggap tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan pengiriman naskah di atas.
  10. Penulis yang karyanya terpilih akan dihubungi oleh pihak panitia.
  11. Tunggu proses lay-out dan disain buku ini. Kami akan memberi informasi terbaru tentang proses kegiatan di :
    1. blog : nbcbalikpapan.wordpress.com
    2. majalah dinding di Lamin Pohon – Waroeng Spagheti Tuna Jl. PU 3 No. 38

Contoh Flash Fiction bisa dilihat di blognya nisa dan mila

Keterangan lengkap lihat di : nbcbalikpapan.wordpress.com

Kontak twitter : @NBCBalikpapan atau @RBP_LamPoh

Email: nbc.balikpapan@gmail.com

Flash Fiction

Standard

Beberapa waktu yang lalu NBC Balikpapan pernah men-twit tentang Flash Fiction. Kalau mau melihat ada di ‘favorite’ di twitter @NBCBalikpapan. Tapi kami juga membantu membuat rekapnya seperti di bawah ini :

 

Apa itu Flash Fiction

Flash Fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerpen. Ukuran maksimal Flash Fiction masih belum jelas, tapi rata-rata berkisar antara 250 sampai 1000 kata. Karena pendek inilah maka karakteristik Flash Fiction muncul, yaitu penggunaan kata yg efektif. Artinya: jika pada cerpen umumnya bisa mendeskripsikan karakter dan latar belakang secara spesifik, maka pada Flash Fiction cenderung fokus di cerita. Flash Fiction mulai banyak dikenal seiring dengan maraknya penggunaan internet, karna kebanyakan blogger lebih enjoy dengan gaya penulisan ini.

Flash Fiction lebih mengutamakan kepiawaian mengolah kata seminim mungkin untuk menghasilkan efek cerita sedramatis mungkin. Beberapa karya di Indonesia menyebut Flash Fiction dengan beberapa nama, seperti: cerita sekilas dan cerita mini (cermin). Keterbatasan kata dalam Flash Fiction seringkali memaksa elemen kisah seperti protagonis, konflik, tantangan dan resolusi muncul tersirat di dalamnya.

Ernest Hemmingway pernah membuat Flash Fiction ekstrim dalam cerita enam katanya: “dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai.”

 

Karakter Dalam Flash Fiction

Apa itu karakter? Bukan jumlah hurufnya ya, melainkan tokoh di dalam cerita itu sendiri. Adanya karakter atau tokoh dalam sebuah karya fiksi, wajib hukumnya. Tak terkecuali flash fiction, walau jumlah kata terbatas. Karakter boleh apa saja selain manusia. Bisa berupa benda atau binatang. Namanya juga cerita fiksi. Karakter ada dalam cerita melalui tujuan yang hendak dicapai si penulis, bisa juga melalui tantangan / konflik yg dihadapi si tokoh, baik eksternal maupun internal, juga melalui perubahan yang dialami si tokoh. Apakah dia berhasil mencapai tujuannya serta dampak yang dialaminya atas perubahan itu.

Ada perbedaan antara karakter / tokoh pada karya fiksi katagori panjang dibandingkan flash fiction. Dalam karya fiksi yang lebih panjang, karakter bisa saja menjadi inti cerita itu sendiri karena leluasa dieksplorasi secara mendetail. Eksplorasi yang dimaksud bisa saja masa lalu si karakter, ciri fisik dan psikisnya, serta keunikan tiap karakter. Tetapi dalam flash fiction, kehadiran tokoh hanya untuk ditempatkan sebagai pemeran cerita belaka, daripada jadi cerita itu sendiri.

Si penulis harus pandai-pandai memperalat karakter untuk menyampaikan tema atau moral cerita yang hendak disampaikan. Tidak ada ruang dalam flash fiction untuk menceritakan siapa sebenarnya si tokoh dalam cerita itu, seperti: motif tertentu si karakter, peristiwa masa lalu yang membentuk karakternya, atau apapun yang menyebabkan karakter terlibat dlm konflik. Biasanya karakter muncul dipertengahan aksi, dimana karakter langsung diceritakan pada puncak konflik.

Satu hal lagi yang membedakan karakter di dalam flash fiction dgn karakter pada karya fiksi yg lebih panjang. Sosok karakter dalam flash fiction biasanya ditampilkan dalam dua dimensi, sehingga pembaca tidak merasa intim mengenal si karakter. ini disebabkan oleh ketidakmungkinan melukiskan daftar ciri fisik (wajah, bentuk tubuh) serta sifat khusus (gaya berpakaian, kebiasaan).

Namun, jangan jadikan pembatasan kata dalam flash fiction jadi alasan penempatan tokoh sebagai pelengkap belaka. Penulis juga harus jeli saat memilih karakter, menentukan jumlah karakter, pemberian peran, dan memerankannya sesuai tujuannya hadir di karya. Berhasil tidaknya tema atau moral cerita sampai ke benak pembaca tetap tergantung pada keberhasilan karakter memerankan cerita.

 

Setting dalam Flash Fiction

Salah satu syarat cerita fiksi adalah kehadiran elemen setting di dalamnya. Berlaku untuk karya fiksi yang panjang seperti cerpen, novel; atau yang pendek seperti flash fiction. Umumnya kita memahami setting melalui penjabaran yang biasa ditemui dalam cerpen atau novel (yg mendetail). Memang agak sukar memasukkan setting ke dalam flash fiction tanpa penjelasan yg mendetail. Cara paling efektif adalah meminjam kepala pembaca untuk mengimajinasikan sendiri setting cerita tanpa kita menuliskannya.

Berikut beberapa teknik menampilkan setting dalam flash fiction tanpa menggunakan banyak kata penjabaran.

  1. Teknik okulasi: mencangkokkan setting pada profesi salah satu karakter. Tidak perlu menyebutkan nama, cukup profesi si karakter. Contoh: saat kita menyebutkan room boy sebagai profesi si karakter, maka kita akan tahu setting cerita adalah di hotel. Contoh lain: guru (sekolah/kelas), penata rambut (salon), waiter (restoran), manager (kantor), dan lain lagi.
  2. Melalui tindakan karakter: setting dihadirkan melalui tindakan yang diambil atau dilakukan si karakter. Contoh: karakter disebutkan menjajakan koran sedangkan yang lain bernyanyi dengan iringan alat musik sederhana. Tindakan-tindakan tersebut tentu memberi petunjuk kepada pembaca bahwa setting cerita adalah di sebuah traffic light.
  3. Kehadiran alat peraga: setting tidak harus digambarkan jelas atau dalam skala besar seperti gedung, rumah, dsb. Dari kehadiran alat peraga dapat dianggap mewakili benda secara keseluruhan. Contoh: dalam sebuah flash fiction tidak disebutkan bahwa setting terjadi di sebuah rumah. Namun karakter diceritakan sedang mengetuk pintu, melompati pagar, dsb. Pintu dan pagar adalah bagian kecil yang mewakili rumah. Alat peraga jika disebutkan sebaiknya tidak berdiri sendiri, tapi muncul dengan alasan dipergunakan oleh karakter dalam sebuah tindakan. Alat peraga bahkan seringkali punya peranan dan fungsi yang sangat penting dalam memajukan plot cerita.
  4. Melebur ke dalam cerita. contohnya: karakter diceritakan adalah seorang supir ambulance. Si supir berusaha menembus kerumunan massa untuk mendekati korban dan memberikan pertolongan. Keseluruah plot membawa pembaca untuk membayangkan setting yang terjadi di sebuah jalan raya di tempat kejadian perkara. Tapi tidak satu kata pun atau kalimat yg menyebutkan setting berupa jalan raya dalam cerita tersebut.

 

Kelemahan yang sering terjadi dalam Flash Fiction

Ternyata flash fiction mempunyai kelemahan. Apa saja itu? Flash fiction memang berbentuk pendek, padat, dan bisa dibaca sekejab. Tapi kualitas penulisan flash fiction tetap harus dijaga.

Terdapat tiga kelemahan dalam penulisan flash fiction yang banyak terjadi. yaitu:

  1. Cerita tidak utuh. maksudnya: flash fiction juga merupakan rangkaian cerita utuh dari awal, tengah, sampai akhir yang terikat benang merah. ada beberapa flash fiction yang diakui penulisnya sebagai flash fiction, tapi ternyata hanya berupa potongan paragraf dari sebuah karya panjang. dengan begini, kita tidak akan pernah tahu darimana awal cerita, bagaimana cerita tersebut terjadi, dan akhirnya. Ini membuat cerita tidak utuh. Kenapa? Karena akan nampak pada kalimat-kalimatnya yang cenderung berdiri sendiri, berbentuk bait yang terpisah satu sama lain. Yang seperti ini malah lebih cenderung mirip puisi. Tidak ada narasi yang mengikat kalimat sebelum dan sesudahnya.
  2. Memberitahu, tidak menunjukkan. Maksudnya: keterbatasan kata yang membuat penulis ambil jalan pintas. Jalan pintas untuk lebih banyak memberitahu pembaca ketimbang menunjukkan. Alasannya: tidak ada cukup ruang untuk mendiskripsikan setting, karakter atau adegan-adegan tertentu. Show don’t tell bukan semata mendiskripsikan secara spesifik seluruh karakter, setting atau kejadian tertentu.
  3. Resolusi cerita tidak jelas. Kenapa? kemungkinan besar sih karena terbiasa menulis puisi. Setidaknya pembaca diberitahu resolusi yang terjadi pada karakternya. Beberapa pembaca akan merasa terkhianati jika resolusi cerita tidak tersampaikan, padahal sudah meluangkan waktu membacanya. Tapi bagi beberapa yang lain, yang mungkin terbiasa dengan flash fiction jenis fiksi mini akan baik-baik saja dengan akhir yang menggantung.

(disarikan dari berbagai sumber)

Peluncuran Buku Julak Acai & Suster Maria

Standard

Setelah perjalanan yang cukup panjang, namun boleh dibilang singkat untuk sebuah buku, hasil kerja sama Balikpapan Art Foundation dan Nulis Buku Club Balikpapan terbayar sudah. Tepat Sabtu, 31 Maret 2012 buku Julak Acai & Suster Maria berhasil diluncurkan.

Acara yang digelar di Lobby Gedung Perpustakaan Daerah ini cukup meriah. Atas bantuan dari Media Plus yang mengadakan pameran buku pada saat itu, kami mendapat tempat disamping pameran buku tersebut.

Turut hadir dalam acara pe,uncuran tersebut Editor buku Julak Acai & Suster Maria – Bang Arif Er Rachman, ketua Legiun Veteran RI Kota Balikpapan Bpk. Damran, para penulis dan perwakilan penulis yang tidak dapat hadir, peserta workshop yang terdiri dari guru dan siswa SMA dan SMK, serta perwakilan dari para donatur acara. Pada peluncuran buku tersebut diisi dengan pembacaan karya oleh beberapa penulis, bincang karya antara editor, penulis, serta peserta workshop dan pengunjung.

Acara juga dibarengi dengan workshop singkat tentang kepenulisan dan apresiasi karya oleh Bang Arif Er Rachman. Bpk. Zulhamdani yang merupakan tokoh seni dan sastra di Balikpapan yang kebetulan menghadiri undangan, membacakan sebuah puisi dihadapan seluruh pengunjung.

Mas Gunawan, seorang penulis bidang manajemen yang sudah menembus penerbit besar, juga ikut membagi ilmu dan tips dalam penulisan dan bagaimana cara mengirimkan karya ke penerbit besar.

Dalam kesempatan yang sama panitia melalui editor Bang Arif Er Rachman memberikan royalti secara simbolis kepada perwakilan dari Legiun Veteran RI Kota Balikpapan, Bpk. Damran. Suasana pada saat itu cukup membuat haru karna Bpk. Damran begitu senang dan bahagia bahwa orang-orang seperti mereka yang sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan masih bisa mendapat perhatian dari teman-teman penulis dan pendukung peluncuran buku Julak Acai & Suster Maria.

Foto- foto acara peluncuran dapat dilihat pada slideshow dibawah ini :

This slideshow requires JavaScript.

Panitia dan pendukung acara berterima kasih atas bantuan yang tak terhingga dari teman-teman donatur dan seluruh pendukung acara. Semoga acara serupa bisa kita adakan lagi untuk membantu sesama.

Setahun NBC Balikpapan

Standard

Tepat tanggal 18 Maret 2012 yang lalu, NBC Balikpapan genap berusia 1 tahun. Dalam perayaan acara Ulang Tahun tersebut, NBC Balikpapan sekaligus mengadakan launching buku Waktu Untuk Merindu karya 9 anggota NBC Balikpapan paling awal.Acara digelar di Lamin Pohon – Waroeng Spagheti Tuna, di Jl. PU 3 No. 38 Komplek V&W.

Walau hanya tiga dari sembilan penulis yang hadir, namun acara tersebut tetap seru karna ada beberapa teman-teman yang datang ingin bergabung dengan NBC Balikpapan.Teman-teman dari Balikpapan Art Foundation dan Rombong Cinema juga turut hadir memeriahkan acara.

Bukan hanya pemutaran film pendek tentang buku, teman-teman juga asik bertukar cerita tentang penulisan dan buku. Sambil menikmati camilan dan bercengkrama, ada pembagian doorprize juga lho. Dua orang yang beruntung mendapatkan voucher diskon belanja di http://www.verdentisgreen.com dan dua lagi mendapatkan voucher diskon dari Lamin Pohon.

This slideshow requires JavaScript.

SEGERA TERBIT : Julak Acai & Suster Maria

Standard
Cover Julak Acai & Suster Maria

Cover Julak Acai & Suster Maria

 

Title : Julak Acai & Suster Maria– sebuah kumpulan tulisan untuk 115 tahun Balikpapan

Year : 2012

Author : Penulis Balikpapan

Editor : Arif Er Rachman (Tribun Kaltim)

Category : Kumpulan Cerpen, Puisi, dan Esai

Thickness : 219 halaman – soft cover

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Pengantar Editor buku Julak Acai & Suster Maria :

Mengabadikan Hal yang Kelak Sirna

Arif Er Rachman

SETIAP orang memiliki kota tempat menambatkan kenangannya masing-masing. Kalau kota itu bernama Balikpapan, maka sebagian kenangan itu adalah kisah-kisah yang terdapat dalam buku kumpulan tulisan (cerpen, puisi, dan esai) ini.

Kenangan-kenangan itu bisa berupa senja di sebuh pantai, malam gemerlap di sebuah pub, romansa singkat di sebuah kamar, peristiwa masa kecil, urban legend, sudut-sudut kota yang punya arti tersendiri, dan tentu saja seseorang. Selalu ada seseorang dalam kenangan seseorang.

Mengapa kenangan menjadi begitu penting untuk diceritakan?

Tiap orang punya jawaban masing-masing. Namun yang jelas kenangan adalah soal keberadaan: kita pernah berada di suatu tempat pada suatu waktu. Dan itu menjadi penting karena kita tidak akan pernah tahu apakah kita tetap ada pada masa datang

Memang pada gilirannya semua akan sirna: peristiwa pasti berakhir dan manusia pasti lenyap. Namun dalam kenangan seseorang, peristiwa akan bisa terus berlangsung dan manusia akan tetap hidup. Begitulah, kenangan mengabadikan segala hal yang kelak sirna.

Begitu pula tulisan-tulisan yang terdapat buku yang terdiri dari 20 puisi, 14 cerpen, dan 5 esai tentang Balikpapan ini. Angka-angka tersebut tidak mengacu pada sesuatu yang khusus, karena memang sejumlah itulah karya yang menurut editor layak dimuat dalam buku perdana terbitan Nulis Buku Club Balikpapan ini.

Buku ini merupakan kumpulan karya, bukan kumpulan penulis. Juga bukan kumpulan partisipasi.  Hingga tulisan ini dibuat, editor tidak mengetahui 39 karya itu ditulis oleh berapa orang dan oleh siapa saja. Editor juga tidak mengetahui karya-karya siapa saja yang dengan berat hati harus disingkirkan mengingat editor menyadari sepenuhnya ada waktu dan tenaga yang telah terbuang untuk menulis karya-karya tersebut. Untuk itu editor mengucapkan banyak terima kasih.

Karya-karya yang dimuat di buku ini murni berdasarkan teks: dinilai berdasarkan unsur instrinsik yang kita ketahui memang ada ukuran-ukuran dan kaidahnya. Sungguh tidak mungkin menilai berdasarkan “rasa” saja, karena sebuah karya bisa jadi bagus bagi seseorang, belum tentu bagus bagi orang lain.

Baiklah, kita mulai saja dengan membicarakan dua cerpen yang menjadi judul buku ini: Julak Acai dan Suster Maria. Editor menilai dua judul itu cukup mewakili Balikpapan. Istilah julak adalah sebutan untuk om atau tante yang tertua, namun kemudian dipakai juga untuk menyebut orang tua di luar keluarga. Istilah ini merupakan bahasa Banjar yang hingga saat ini cukup banyak mempengaruhi bahasa Indonesia sehari-hari yang digunakan di Balikpapan. Sedangkan Suster Maria merupakan urban legend yang kisahnya sering dituturkan dari mulut ke mulut oleh warga Balikpapan.

Julak Acai kuat pada cerita dan penokohan si julak. Dari cerpen ini setidaknya kita mengetahui bahwa Balikpapan juga tak luput dari prahara politik dan budaya yang terjadi di Indonesia pada 1965-1966. Dari Suster Maria yang berkisah tentang kejadian jenaka, kita mengetahui bahwa legenda urban itu telah ada di Balikpapan sejak zaman penjajahan Belanda.

Cerpen lain yang juga berbau mistis dan mitos adalah Janji dan Sepasang Merpati Tak Pernah Muncul Lagi. Cerpen Janji berkisah tentang pertemuan-pertemuan si tokoh dengan sosok misterius di pantai di kaki Gunung Kemendur, sedangkan Sepasang Merpati Tak Pernah Muncul Lagi bercerita tentang serdadu KNIL yang menjadi tawanan Jepang.  Karena pada saat bertempur ‘sepasang merpati’ tidak melintas, maka mereka kalah bertempur.

Setting Balikpapan zaman penjajahan Jepang juga terlihat pada cerpen Dalam Cengkeraman Tentara Matahari Terbit dan Di Antara Debu Mesiu. Cerpen pertama bercerita tentang kengerian yang dialami warga akibat teror yang ditebarkan tentara Jepang. Ayah si tokoh yang menjadi penutur dalam cerpen ini dipancung Jepang di hadapan kerumunan orang. Sedangkan cerpen kedua yang merupakan kelanjutan yang pertama berkisah tentang pertempuran menyusul datangnya tentara Sekutu yang mengakhiri pendudukan Jepang.

Jika enam cerpen di atas yang mengambil setting Balikpapan pada masa lampau, maka delapan cerpen lainnya mengambil setting Balikpapan masa kini. Dua cerpen yang secara baik bertutur tentang keadaan Balikpapan kontemporer saat ini tanpa harus terjebak menjadi semacam esai tanggung adalah Yang Terakhir dan Sebungkus Nasi Kuning.

Yang Terakhir, selain merupakan cerpen yang paling enak dibaca dalam kumpulan ini, juga menuturkan paling banyak tentang Balikpapan dengan alur cerita yang menarik sehingga tidak muncul menjadi semacam kuliah atau buku panduan tentang Balikpapan. Nama-nama tempat dan landmark Balikpapan hingga kuliner khas sampai urban legend terpapar secara relevan dalam rangkaian cerita.

Senada dengan Yang Terakhir, cerpen Sebungkus Nasi Kuning menggambarkan denyut nadi kota yang semakin cepat seiring kemajuan pembangunan dan perekonomian Balikpapan, lengkap dengan kondisi alam dan cuacanya. Cerita ditutup dengan gambaran ketimpangan sosial yang muncul sebagai dampak kemajuan pembangunan.

 Kritik sosial cukup kental hadir dalam cerpen Jangan Panggil Aku Pelacur yang bercerita tentang perempuan korban human trafficking. Di sini, si penulis secara cermat menggambarkan suasana komplek lokalisasi Km 17 dengan penuturan yang cukup intens. Sebuah pengamat mendalam.

Dalam cerpen Bukan Monumen Perjuangan Rakyat Lagi, kritik sosial dibungkus dalam cerita jenaka dengan plot di luar logika umum: gabungan antara realisme dan fantasi. Tokoh-tokoh dalam cerpen ini adalah tiga patung Monpera yang ‘hidup’ dan mengajukan pensiun dini kepada (patung) Jenderal Sudirman karena kecewa melihat Monpera yang lebih sering menjadi tempat rendezvous muda-mudi.

Kisah cinta tak ketinggalan turut mewarnai beberapa cerpen di buku ini. Dalam Sayap Rindu Rian, tokoh sekaligus penutur cerita menemukan tambatan hatinya di Balikpapan. Sedangkan pada cerpen Menjemput Matahari, cinta hadir berwujud dua ‘matahari’ baru yang ditemukan sang tokoh di Balikpapan.

Elemen surprise ending hadir dan memperkuat cerita dalam Mencari Dia. Sang tokoh bertekat menemukan seorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya di masa lampau. Namun setelah ditemukan, sosok yang dicari ternyata bertolak belakang dengan sosok yang selalu terpatri dalam kenangan sang tokoh.

Cerpen Cerita Senja di Balikpapan bercerita tentang sang tokoh yang pencinta senja yang bercerita tentang orang-orang yang juga mencintai senja. Salah satu karakter yang muncul bahkan bernama Senja.

Senja juga banyak disebut-sebut dalam 20 puisi di buku ini. Bahkan beberapa di antaranya mengangkat senja jadi tema utama. Editor menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk mengapresiasi 20 puisi tersebut, karena puisi sunguh multitafsir.

Sedangkan lima esai yang termuat dalam buku ini merupakan harapan-harapan, impian-impian, dan juga kritik yang diharapkan bisa membuat Balikpapan terus maju dan berkiprah bukan saja di Indoensia, tapi juga di dunia.

Begitulah, selamat menikmati karya-karya dalam buku ini. Semoga ada di antaranya yang memberikan manfaat, atau setidaknya layak untuk dikenang.

Balikpapan, Valentine’s Day 2012

Proyek menulis amal dalam rangka HUT Kota Balikpapan ke-115 hampir rampung. Buku dalam proses draft dipercetakan dan dijadwalkan akan terbit segera. Pre-order kami buka mulai hari ini sampai tanggal 12 Maret 2012. Pemesanan kirim nama, alamat lengkap, nomor telpon ke email : order.nbcBpp@gmail.com, dengan subjek email : order Julak Acai.

Acara launching buku dijadwalkan akan diadakan pada tanggal 31 Maret 2012. Info lanjut mengenai acara launching akan segara menyusul.

Waktu Untuk Merindu

Standard
waktu untuk merindu

cover depan waktu untuk merindu

NBC Balikpapan proudly present Waktu Untuk Merindu!

Waktu Untuk Merindu adalah buku pertama hasil karya 9 anggota NBC Balikpapan. Berisi 17 kisah, buku ini mengusung tema waktu dan rindu. Kisah-kisah yang tertulis dijalin manis dan mengungkap berbagai sudut pandang yang diangkat oleh para penulis. Waktu dan rindu bisa memiliki berbagai arti dan makna berbeda bagi tiap orang.

Daftar Isi Buku :

  1. Run Out of Time – Agni Giani
  2. 45 Menit – Annisa F. Viramisyah
  3. Sang Pengantin – Ardestya
  4. Mutiara Selatan – Indrawati  Yustisiana
  5. Mang Idung – Krismila Ming
  6. Langit Tanpa Bintang – Nara Pramadhika
  7. Andai – Widya Aulia R.
  8. Last Monday – Wini Rizkiningayu
  9. Obrolan Traffic Light – Damar Restio
  10. Rindunya Rindu – Agni Giani
  11. Jejak – Annisa F. Viramisyah
  12. Surat Untuk Rianna – Ardestya
  13. Lima Pebruari – Indrawati  Yustisiana
  14. Menunggu Nena Pulang – Krismila Ming
  15. Pulang – Nara Pramadhika
  16. Udin – Widya Aulia R.
  17. The Death of Sleeping Beauty – Wini Rizkiningayu

Beberapa review buku Waktu untuk Merindu:

http://agnigiani.blogspot.com/2012/02/waktu-untuk-merindu.html

http://balonwarnawarni.blogspot.com/2012/02/waktu-untuk-merindu-bukan-puisi.html

http://15haringeblogff.wordpress.com/2012/02/27/a-book-review-waktu-untuk-merindu/

http://pujiekalestari.wordpress.com/2012/02/25/waktu-untuk-merindu/

http://blingblinggirl.wordpress.com/2012/02/25/review-waktu-untuk-merindu/

http://blognyashantyadhitya.blogspot.com/2012/02/review-waktu-untuk-merindu.html

http://cizureview.wordpress.com/2012/02/27/review-kumcer-waktu-untuk-merindu/

http://annisarasyad.wordpress.com/2012/02/27/buku-waktu-untuk-merindu/

Untuk pemesanan langsung ke nulisbuku.com : http://www.nulisbuku.com/books/view/waktu-untuk-merindu

Khusus wilayah Balikpapan, bisa menghubungi saudari @mishavira.

Pengumuman Lolos Seleksi ‘Tulisan Untuk Balikpapan’

Standard

Setelah melewati proses seleksi aksara dan tanda baca oleh tim seleksi, serta seleksi bobot cerita, tema, alur dan unsur tulisan lainnya oleh editor, kami mengumumkan dibawah ini adalah daftar karya dan nama penulis yang tulisannya lolos seleksi sebagai berikut :

  1. Suster Maria (cerpen) – Petrik Matanasi
  2. Sudut Buaian Ranah Tercinta (puisi) – Khusnul Khotimah
  3. Mencari Dia (cerpen) – Kaka H Y
  4. Sepasang Merpati Tak Pernah Muncul Lagi (cerpen) – Petrik Matanasi
  5. Balikpapan 115 (puisi) – Chita Wijaya
  6. Serpihan Malam (puisi) – Chita Wijaya
  7. Yang Terakhir (cerpen) – Krismila Ming
  8. Membangun, Menjaga, Membela Balikpapan dengan Media Sosial (esai) – Rijal Fadilah
  9. Prolog Tentang Aku (puisi) – Norhayati
  10. Alam Yang Kurindukan (puisi) – Rachmadika Prihandanu Yuanizar
  11. Jangan Panggil Aku Pelacur (cerpen) – Didiek E. Susanto
  12. Balikpapan Kota Seperti Apakah (esai) – Noviyanti Mawardiyani
  13. Balikpapan 115, Ketika Rasa Cinta Menghanguskanku (puisi) – Helena Adriany
  14. Bukan Monumen Perjuangan Rakyat Lagi (cerpen) – Gus Noy
  15. Sayap Rindu Rian (cerpen) – Ila Rizky Nidiana
  16. Di Antara Debu Mesiu (cerpen) – Rosalinda Tumbelaka
  17. Kemana Perginya Hutanku (puisi) – Hendy Lazuardy Hendrawan
  18. Senja di Melawai (puisi) – Hendy Lazuardy Hendrawan
  19. Cerita Senja di Balikpapan (cerpen) – Dewi Liliane Chandra
  20. Balikpapan Tinggal Kenangan (puisi) – Nyi Penengah Dewanti
  21. Tentang Balikpapan (esai) – Mudhalifana Haruddin
  22. Sebungkus Nasi Kuning (cerpen) – Annisa F. Viramisyah
  23. Janji (cerpen) – Annisa F. Viramisyah
  24. Tanah Kelahiran (puisi) – Annisa F. Viramisyah
  25. Siluet Harap (puisi) – Ila Rizky Nidiana
  26. Menjemput Matahari (cerpen) – Mariatul Kibtiah
  27. Balikpapan, Dalam Catatan Imaji (esai) – Muhammad Wahdini
  28. Julak Acai (cerpen) – Thomas Wirya
  29. Teluk Balikpapan (puisi) – Allianda
  30. Bunda Mathilda (puisi) – Gus Noy
  31. Dalam Cengkraman Matahari Terbit (cerpen) – Rosalinda Tumbelaka
  32. Marbo (puisi) – Subur Mutram
  33. Kota Aku (puisi) – Subur Mutram
  34. Balikpapan nan Permai (puisi) – Subur Mutram
  35. Balikpapan yang Permai (puisi) – Paul Elcano
  36. Sari di Manggar (puisi) – Subur Mutram
  37. Di Balik Papan (puisi) – Paul Elcano
  38. Lembah Harapan (puisi) – Subur Mutram
  39. Keadilan dan Cinta (esai) – Raihanah Rahmah

Bagi yang karyanya lolos, kami sudah mengirimkan email beserta petunjuk lanjutan untuk keperluan penerbitan buku.

Terima kasih kepada seluruh pengirim tulisan baik yang lolos maupun tidak untuk partisipasinya dalam kegiatan ini. Tunggu acara peluncuran bukunya ya…